Cerita sahabatku yang kehilangan suami

Fuh… lama sekali tak menulis. Sejak keyboardku rusak dan toko komputer rasanya jauuuh sekali.

kali ini aku ingin sekali bercerita tentang sahabatku tercinta. namanya Ana, belum tua , bahkan mungkin sekitar 24 tahunan . Dia memiliki seorang anak 3 tahunan. Kira2 sebulan yang lalu suaminya meninggal..

Walaupun sudah biasa membiayai hidup  karena Da Dedi ( SUAMINYA ) berhenti bekerja di toko kakaknya dan memilih jadi pengangguran, tetap saja Ana mengalami kesulitan.

Sahabatku itu dulu menjual jus keliling di Bukittinggi . Sejak ditinggal suami , Ana kembali ke Batusangkar . ” Ana ngak kuat kak.. ” KAtanya. Aku maklum sekali . Walaupun perekonomiannya cukup bagus disini tapi sepanjang jalan ada kenangannya akan  suami yang sangat dicintainya….

Nah,   Ana sekarang hidup di Batusangkar bersama keluarganya yang kehidupan merekapun sangat memprihatinkan.. Dan Batusangkar bukan kota seperti Bukittinggi, Ana belum menemukan sumber pendapatan yang cukup bagus seperti disini.

Sebelum puasa kemaren  , Ana ke Bukittinggi , menengok dan mohon maaf lahir batin serta  berziarah ke kuburan suami.  … ooh ya saya belum bercerita tentang keluarga da Dedi. Dia anak ke 4 dari 4 bersaudara. Kakaknya perempuan saja. yang paling tua namanya Ni Nel ,  Ni lis dan Ni Lisa. NI Nel yang paling tua tempat dulunya da dedi dan Anis bekerja. Ni lis berkedai kaki lima di pasar  lereng. Dan ni Lisa ikut suami ke Pekanbaru. Mereka lumayan mapan perekonomiannya

Ana,  wanita yang sangat kuat , menurut saya dan menurut siapapun yang mengenalnya. Bukan berarti dia mengharapkan belas kasian dari keluarga suami, tapi ada hal yang ingin aku ceritakan tentang mereka saat Anis dan anaknya, rian datang ke Bukittinggi kemarin. .

Ni nel yang perekonomiannya jauh lebih bagus dari Ana memberi anaknya Ana uang 20 ribu saja.  Ni LIs memberikan sebuah sepatu dan sebuah mainan mobil – mobilan. Lalu Bapaknya Da dedi memberikan uang 150 ribu. Bukan Ana datang untuk minta uang , Tapi menurut suamiku, Saudara saudara Da dedi punya kewajiban memberikan tambahan biaya hidup buat Rian, putra semata wayang adik tercinta mereka. Bukan memberikan 20 ribu seperti kunjungan biasa saat sang ayah masih ada…  Sedih kan…  bagaimana menurut mu ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s