Mbah Maridjan tewas ketika menunaikan shalat magrib

Raden Ngabehi Surakso Hargo atau yang lebih dikenal dengan Mbah maridjan ditemukan meninggal dunia dalam posisi sujud rabu 27/07 didapur rumahnya setelah juru kunci merapi ini tetap bersikukuh tidak mau dievakuasi walaupun gunung merapi telah meletus Selasa 26 / 10.

Sosok yang bersahaja ini awalnya dikabarkan telah diselamatkan dalam kondisi lemas selasa 26 / 10 , sebelum kemudian tim evakuasi menemukan beliau beserta 16 orang lainnya tewas di  kawasan rumahnya , di kaki gunung Merapi.

Laki – laki yang lahir tahun 1927 ini tiba – tiba namanya melambung karena juga tidak mau dievakuasi pada peristiwa letusan gunung Merapi Sleman Yokyakarta tahun 2006 lalu. Beliau bahkan menjadi bintang iklan salah satu minuman penambah stamina yang sering tampil di televisi.

Berdasarkan kesepakatan keluarga , Mbah maridjan akan dimakamkan kamis 27 / 10 di Srunen, Desa Umbulharjo, Cangkringan,   sekitar pukul 10.00 WIB. Sedangkan istri dan 2 orang anaknya akan tinggal di rumah Agus., orang terdekat Mbah Maridjan karena rumah mereka hancur tersapu awan panas.

Mbah Maridjan yang selama  ini sangat  disegani warga sekitar kaki Merapi ini sebenarnya bukan juru kunci Merapi seperti yang selama ini lekat dengan beliau.” Mbah Maridjan bukan juru kunci Merapi tapi juru kunci keraton untuk sebuah upacara di Gunung Merapi,” begitu kata  Sri Sultan Hamengku Buwono X , usai menghadiri rapat koordinasi di posko utama Pakem, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10 ).

Selain itu menurut Sri Sultan Hamengkubuwono X, Mbah maridjan yangan baru saja melakukan operasi hernia pada 27 januari untuk yang kedua kalinya  ini sudah hendak turun bersama masyarakat lainnya, tapi beliau ingin melakukan salat magrib dulu di rumahnya sebelum awan panas muncul dan menewaskan beliau

mbah Mridjan meninggalkan  seorang isteri yang bernama Ponirah (73), 10 orang anak (lima diantaranya telah meninggal), 11 cucu dan 6 orang cicit. Anak-anak Mbah Maridjan yang masih hidup bernama Panut Utomo (50), Sutrisno (45), Lestari (40), Sulastri (36), dan Widodo (30). Mereka ada yang memilih tinggal di Yogyakarta dan ada pula yang di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s